Ibu Tega Membunuh Anaknya Karena Belajar Online ?!!

Hal apa yang bisa dipelajari dari kasus seorang Ibu yang tega menganiaya sampai membunuh anaknya sendiri ? ?

Indonesia dikejutkan dengan berita mengerikan yang mungkin membuat banyak orangtua menjadi lebih waspada. Berita itu adalah berita seorang Ibu yang mampu menganiaya sampai membunuh anandanya ketika anandanya tidak bisa diajari pelajaran online. Astagfirullahal’adzim…

Yaa, saat ini ketika pandemi masih merajalela di dunia khususnya di Indonesia, seluruh siswa dan orangtua siswa harus beradaptasi dengan model pembelajaran online. Bukan hal yang mudah memang, tapi tetap harus dilakukan jika para orangtua mau anandanya bertahan di masa ini.

Tapi yang menjadi tantangan adalah, tidak semua anak mampu mengikuti pembelajaran online dengan baik. Belajar online saja sulit, apalagi belajar online? Begitu ya, Bun?

Sebagai orangtua, khususnya Bunda yang menemani anandanya belajar online, tentu ingin anandanya tetap mendapatkan nilai bagus dari tugas-tugas sekolahnya. Cara yang diambil orangtua biasanya adalah dengan membantu mengajari anandanya sendiri.

Bukan anaknya ini yang belajar, tapi bundanya.

Memang ya… pasti bukan hal yang mudah buat Bunda di rumah ketika harus mengerjakan pekerjaan rumah dan pekerjaan sekolah ananda sekaligus. Tapi apakah itu bisa dijadikan alasan untuk seorang Bunda membunuh anaknya sendiri?

Sejujurnya, tidak ada orangtua terlebih seorang bunda, yang mampu menyakiti bahkan sampai menghilangkan nyawa Anandanya sendiri… Jadi mengapa hal itu bisa terjadi?

Salah satu faktor yang kemungkinan besar menjadi pemicu seorang bunda mampu membunuh anaknya sendiri adalah karena ketidakmampuan ibundanya untuk mengontrol emosi dengan baik. Emosi menguasai sang bunda dan akhirnya ia tidak sadar bahwa yang dilakukannya adalah dosa yang sangat besar. Kalau sudah seperti itu, bunda tersebut hanya mampu meratapi kesalahannya dan harus menerima kehilangan anak kandungnya selamanya.

Lalu, pelajaran apa yang bisa para orangtua ambil dari kisah ini?

Salah satu dan yang paling penting adalah pelajaran bahwa orangtua harus pandai dalam mengendalikan emosi. Emosi yang negatif akan menghasilkan hasil yang negatif pula. Selain mengendalikan emosi, orangtua juga perlu membantu membuat anandanya merasa lebih nyaman belajarnya. Kalau anandanya punya masalah belajar, apakah ananda akan belajar dengan nyaman?

Memang, ada ya cara buat merilis masalah belajar Ananda?

Ada banget. Cara ini juga bisa membantu orangtua mengendalikan emosinya.

Jadi, dengan cara apa?

Caranya adalah dengan melakukan Teknik Optimasi Kecerdasan. Sebuah teknik dengan konsep merilis hal-hal yang negatif agar banyak hal positif yang bisa masuk ke dalam diri. Teknik ini sudah membantu banyak anak merilis kendala belajar seperti tidak fokus, sulit konsentrasi, malas belajar, sulit mengerjakan soal, tidak suka pelajaran tertentu, dll, setelah masalah belajar dirilis, ananda diberikan hal-hal positif untuk melejitkan prestasinya. Selain yang berkaitan dengan masalah belajar, teknik ini juga sudah berpengalaman membantu banyak anak mengubah attitude buruk menjadi attitude yang lebih baik.

Bayangkan Bun, ketika ananda bisa fokus, bisa konsentrasi, mudah belajar, apakah Bunda akan punya emosi negatif? Kemungkinan besar tidak, kan?

Kesimpulannya, mari Bun, kita hindari hal-hal seperti ‘kisah mengerikan itu’ dengan membekali ananda juga diri kita dengan cara yang pas, salah satunya dengan Teknik Optimasi Kecerdasan.

Hal apa yang bisa dipelajari dari kasus seorang Ibu yang tega menganiaya sampai membunuh anaknya sendiri ? ?

Indonesia dikejutkan dengan berita mengerikan yang mungkin membuat banyak orangtua menjadi lebih waspada. Berita itu adalah berita seorang Ibu yang mampu menganiaya sampai membunuh anandanya ketika anandanya tidak bisa diajari pelajaran online. Astagfirullahal’adzim…

Yaa, saat ini ketika pandemi masih merajalela di dunia khususnya di Indonesia, seluruh siswa dan orangtua siswa harus beradaptasi dengan model pembelajaran online. Bukan hal yang mudah memang, tapi tetap harus dilakukan jika para orangtua mau anandanya bertahan di masa ini.

Tapi yang menjadi tantangan adalah, tidak semua anak mampu mengikuti pembelajaran online dengan baik. Belajar online saja sulit, apalagi belajar online? Begitu ya, Bun?

Sebagai orangtua, khususnya Bunda yang menemani anandanya belajar online, tentu ingin anandanya tetap mendapatkan nilai bagus dari tugas-tugas sekolahnya. Cara yang diambil orangtua biasanya adalah dengan membantu mengajari anandanya sendiri.

Bukan anaknya ini yang belajar, tapi bundanya.

Memang ya… pasti bukan hal yang mudah buat Bunda di rumah ketika harus mengerjakan pekerjaan rumah dan pekerjaan sekolah ananda sekaligus. Tapi apakah itu bisa dijadikan alasan untuk seorang Bunda membunuh anaknya sendiri?

Sejujurnya, tidak ada orangtua terlebih seorang bunda, yang mampu menyakiti bahkan sampai menghilangkan nyawa Anandanya sendiri… Jadi mengapa hal itu bisa terjadi?

Salah satu faktor yang kemungkinan besar menjadi pemicu seorang bunda mampu membunuh anaknya sendiri adalah karena ketidakmampuan ibundanya untuk mengontrol emosi dengan baik. Emosi menguasai sang bunda dan akhirnya ia tidak sadar bahwa yang dilakukannya adalah dosa yang sangat besar. Kalau sudah seperti itu, bunda tersebut hanya mampu meratapi kesalahannya dan harus menerima kehilangan anak kandungnya selamanya.

Lalu, pelajaran apa yang bisa para orangtua ambil dari kisah ini?

Salah satu dan yang paling penting adalah pelajaran bahwa orangtua harus pandai dalam mengendalikan emosi. Emosi yang negatif akan menghasilkan hasil yang negatif pula. Selain mengendalikan emosi, orangtua juga perlu membantu membuat anandanya merasa lebih nyaman belajarnya. Kalau anandanya punya masalah belajar, apakah ananda akan belajar dengan nyaman?

Memang, ada ya cara buat merilis masalah belajar Ananda?

Ada banget. Cara ini juga bisa membantu orangtua mengendalikan emosinya.

Jadi, dengan cara apa?

Caranya adalah dengan melakukan Teknik Optimasi Kecerdasan. Sebuah teknik dengan konsep merilis hal-hal yang negatif agar banyak hal positif yang bisa masuk ke dalam diri. Teknik ini sudah membantu banyak anak merilis kendala belajar seperti tidak fokus, sulit konsentrasi, malas belajar, sulit mengerjakan soal, tidak suka pelajaran tertentu, dll, setelah masalah belajar dirilis, ananda diberikan hal-hal positif untuk melejitkan prestasinya. Selain yang berkaitan dengan masalah belajar, teknik ini juga sudah berpengalaman membantu banyak anak mengubah attitude buruk menjadi attitude yang lebih baik.

Bayangkan Bun, ketika ananda bisa fokus, bisa konsentrasi, mudah belajar, apakah Bunda akan punya emosi negatif? Kemungkinan besar tidak, kan?

Kesimpulannya, mari Bun, kita hindari hal-hal seperti ‘kisah mengerikan itu’ dengan membekali ananda juga diri kita dengan cara yang pas, salah satunya dengan Teknik Optimasi Kecerdasan.

Bunda pasti mau tau lebih lanjut ya apa itu optimasi kecerdasan? Silakan chat WA ke 0813-1563-9796 atau klik link bio di IG @optimasikecerdasan ya!

Kalau kata pepatah lama, Mencegah Lebih Baik Sebelum Mengobati. Kita berupaya yang baik sampai tidak ada yang perlu disesali…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *